Mengasah Pikiran dan Perasaan

By L.N. Firdaus

 

“Yang dinamakan Pendidikan itu adalah tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun maksudnya Pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggauta masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya.” – Ki Hadjar Dewantara (1977: 20)

 

Syahdan, Dr Saberina@Kolega dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau wrote on January 21, 2022@WAG LPPM Vol 1:

 “Menjemput @L.N. Firdaus untuk menulis dan menshare di grup WA kita ini…. Pendidikan itu Mempertajam pikiran dan memperhalus perasaan …. “

Pertanyaan tingkat tinggi yang mendasar ini sebetulnya sudah diberikan oleh Ki Hadjar Dewantara sebagaimana  saya kutipkan di atas.

Secara Ontologis, hakikatnya pendidikan itu adalah memanusiakan manusia. Fitrah kemanusiaan anak didik sudah terberi oleh Tuhan dalam wujud tiga potensi: cipta (pikiran), karsa (psikis/rasa/), dan raga (fisik).

Secara epistemologis-yuridis, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab 1, Pasal 1, Ayat (1):

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”

Perihal mengasah pikiran sudah saya ulas selayang pandang di https://www.lamanriau.com/2022/01/23/batu-asah/

Selebihnya tinggal refleksi diri atas praktik pembelajaran yang kita amalkan. Apakah pembelajaran yang kita aktualisasikan mampu membangkitkan suasana belajar dan proses pembelajaran” yang mempertajam pikiran dan memperhalus perasaan mereka?. Apakah pertanyaan-pertanyaan (questions) yang kita ajukan kepada Mahasiswa mampu mengasah daya kritis dan memperhalus perasaan akal budi?

Pertanyaan dangkal (shallow question) rasa-rasanya sukar menghasilkan mahasiswa HOT (High Order Thinking) sebagi pisau berfikir kritis keterampilan Abad 21. Pertanyaan dangkal hanya berpotensi menghasilkan lulusan dengan bekal pisau berfikir tidak kritis alias tumpul. Hanya berguna untuk mengupas persoalaan sederhana (simple problem) di “Universitas Kematian”.

Ianya kurang berdaya guna untuk menghadapi persoalan rumit (complex problems) di “Universitas Kehidupan” yang bersifat VUCA (Volatile, Uncertainty, Complex, Ambigue). Inilah agaknya rasional kebijakan MBKM yang menggalakkan pembelajaran Case-based Method dan Problem-based Learning untuk menantang Mahasiswa dan Dosen berfikir tingkat tinggi dan mendalam itu.

Ada juga Dosen yang berdalih bahwa boro-boro mengajukan Pertanyaan Dalam (deep questions). Pertanyaan dangkal saja sukar dijawab mahasiswa. Bahkan lebih sering mahasiswa diam seribu Bahasa macam asbak atau batu dilempar ke kolam depan Rektorat.  Senyap tak menjawab. Entah paham atau kah tidak.

Namun perlu juga kita mawas diri. Jangan-jangan kita yang kurang terampil membuat dan menyampaikan pertanyaan tingkat tinggi itu. Untuk menghasilkan pertanyaan tingkat tinggi, kita harus berfikir mendalam (deep thinking). Ini yang menguras energi. Sementara energi kita sudah banyak terkuras oleh tuntutan “syahwat” administarif  Tri Dharma Perguruan Tinggi yang semakin menjadi-jadi.

Pada tataran praktis-implementatif (pembelajaran), “usaha sadar dan terencana” itu sudah kita wujudkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang saban semester kita mutakhirkan. Fundamental masalahnya adalah sejauhmana RPP yang sudah dengan susah payah dibuat itu diaktualisasikan dalam  proses pembelajaran”Sudahkah Pendekatan, Model, Strategi, Metode, Teknik, dan Taktik/Kiat yang kita pakai itu betul-betul berorientasi memberdayakan “peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya?”.

Soal memperhalus perasaan? Praksis Pendidikan yang diwujudkan melalui Pengajaran (teaching) lebih mengarah kepada pilar Learning to Know dan Learning to Do.  Untuk memperhalus perasaan, kegiatan mengajar harus lebih menekankan kegiatan mendidik (scholarship of teaching and learning) yang mengarah pada  Leaning to Be dan Learning to Live Together.

Apakah nilai-nilai didikan yang kita tanamkan berhasil membuka minda (mind), hati (heart), nurani (will) sehingga peserta didik “secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”?

Spiritualisasi pembelajaran agaknya amat dibutuhkan agar nilai-nilai Pendidikan (values) yang ditanamkan dapat memperhalus perasaan peserta didik. Tanpa itu, suasana pembelajaran amat lah gersang-kering kerontang,  miskin makna alias kurang berkesan. Yudi Latif (2020) memandang krusialnya Learning to Feel (olah Rasa dan olah Karsa) sebagai pilar emas Ki Hajar Dewantara untuk menyempurnakan empat pilar Pendidikan UNESCO.

Prof. Muhammad NUH (2013) memandang semakin mendesaknya Pedagogi Hati dan Budi Pekerti dalam menyikapi fenomena kegersangan dan kemusyrikan sosial yang semakin memilukan hati. Kegersangan sosial terjadi akibat ketidakseimbangan antara pengembangan kecerdasan akal dan kecerdasan hati.

Hati adalah lokus reaktor transformatif anak didik menjadi manusiawi. Hati adalah umm (Ibu) dari segala kebahagiaan hidup sekaligus menjadi pangkal malapetaka bagi kehidupan manusia. Maka, benarlah tulisan pada Pelakat yang saya peroleh di Pasar Barang Bekas : “A Teacher Takes a Hand, Opens a Mind and Touches A Heart”

Demikianlah  Dr Saberina. Terima kasih telah menajamkan pikiran dan menghaluskan akal budi saya melalui pertanyaan bermutu yang diajukan. Tajamkan jika dirasa masih tumpul.  Haluskan jika dirasa masih kasar.

Schooling Fish dan Schooling students sama-sama digerakkan oleh  hati bukan?

Wallahualam….

Cara Gagal Menjadi Rektor

by L.N. Firdaus

Tak lama lagi Universitas Riau akan menggelar pemilihan Rektor untuk masa kepemimpinan 2022-2026.  Permenristekdikti  Nomor 19 Tahun 2017, Pasal 6, Ayat (1) menyatakan bahwa tahap penjaringan bakal calon dilaksanakan paling lambat 5 (lima) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan Pimpinan PTN yang sedang menjabat.

Sampai tulisan ini diracik, belum ada memang peminat yang menyatakan diri secara terbuka untuk maju mencalonkan diri.

Kalau secara tertutup, saya sudah mendengar ada beberapa akademisi yang berminat dan merintis jalan untuk meraih suara Senator.

Ada juga yang bergerak di bawah tanah sembunyi-sembunyi hendak mengadang-ngadang calon pujaan hatinya.

Beberapa jajak pendapat tentang bakal calon yang potensial versi publik pun sudah ditebar secara maya sejak Desember 2021.

Tulisan ini saya racik, terkhusus bagi para peminat yang berhasrat kuat hendak menduduki kursi panas pucuk pimpinan UNRI 4.0.

Simak baik-baik pengalaman kegagalan saya. Jangan tiru cara saya ini jikalau betul-betul hendak menjadi Rektor. Dijamin 1000 persen Tuan-tuan atau Puan-puan akan menyesal seumur hidup. Gagal total..!

Tiga belas tahun yang lalu (31 Oktober 2009), di hari terakhir pemasukan berkas lamaran bakal calon Rektor, saya proklamirkan secara terbuka melalui tulisan di Harian Riau Pos (https://proffirdausln.wordpress.com/2009/10/31/transformasi-universitas-riau/).

Tidak ada seorang pun Sivitas Akademika UNRI yang saya bagi tahu bahwa saya akan melamar menjadi Rektor ketika itu, kecuali Istri dan Anak.

Tidak ada seorang pun Senator UNRI yang saya dekati atau saya jamu makan malam di hotel-hotel untuk merayu suara saat pemilihan nanti. Apatah lagi saya karantinakan.

Tidak ada seorang pun hulu balang yang saya utus naik pesawat ke Jakarta untuk melobi 35 persen suara Menteri.

Tidak ada satu pun Anggota DPR RI yang saya hubungi  agar mereka dapat membantu melobi suara Menteri di Jakarta.

Tidak ada satu pun Ormas yang saya approach  agar mereka dapat membantu melobi suara Menteri di Jakarta.

Tidak ada seorang pun Rekan Alumni Lemhannas R1 tahun 2009 yang saya minta tolong melobi suara Menteri di Jakarta.

Saya tidak menggunakan waktu, tenaga, biaya, dan pikiran untuk kegiatan-kegiatan yang tak sesuai dengan tradisi agung kecemerlangan universitas. Energi saya fokuskan untuk menuangkan visi akademik saya sebagai Calon Rektor yang tak sudi ber-KKN;  perkara haram yang menjadi euforia mahasiswa kala itu.

Pada hari pemungutan suara pemilihan Rektor yang disiarkan secara langsung melalui Riau Televisi itu,  saya persembahkan kehadapan Senator UNRI dua buku yang saya tulis berisi Visi Kepemimpinan Akademik:

  • Transformasi Budaya Akademik Menuju World Class Research University.RUEDC, Pekanbaru (2009) /ISBN 978-979-1222-89-1
  • Towards A Shared Vision on Higher Education: Transformational Academic Leadership, Learning Organization, and Management of Change.RUEDC Pekanbaru (2009), Indonesia (Preface by Prof. Dr. Michael Fremerey, ISOS University of Kassel, Germany) [ ISBN 978-979-1222-10-5]

Luar biasa gemuruh tepuk tangan para Senator UNRI selepas saya menyampaikan visi-misi Calon Rektor kala itu.  Bukan main berbunga-bunga hati saya waktu itu merasa yakin akan meraih suara terbanyak.

De facto? Saya hanya meraih SATU SUARA, yaitu SUARA SAYA SENDIRI ha..ha….

Apakah visi kepemimpinan yang saya tawarkan itu kurang bermutu? Empat tahun sebelum saya memutuskan ikut penjaringan, dalam bukunya “Change!”, Rhenald Kasali (2005) di halaman 272 menuliskan:

“Manajemen perubahan, suka atau tidak suka, harus menyentuh transformasi nilai-nilai. Tanpa menyentuh dan melakukan tranformasi nilai-nilai, manusia-manusia dalam suatu institusi akan tetap melakukan hal-hal sama dengan cara-cara sama seperti yang dilakukan di masa lalu.”

Dua tahun selepas saya mengajukan visi transformasi budaya itu,  terbit Buku “Culture Based Leadership” yang ditulis oleh Herry Thahjono (2011).  Di halaman 78 buku itu dituliskan:

“…proses transformasi budaya (termasuk culture building) merupakan sesuatu yang layak ditempatkan pada perioritas utama kegiatan kepemimpinan dan manajemen.”

Sebelum meninggalkan ruang pemilihan, saya dicegat Wartawan Riau Pos dengan pertanyaan, “Apa komentar Prof atas hasil pemilihan tadi?”

Jawab saya, “ Telah mati hati nurani akademik anggota senat UNRI”.

Demikianlah,  semoga bermanfaat bagi para Bakal Calon Rektor yang memerlukan.

“Belajar dari kegagalan adalah cara meraih kesuksesan”.

Semoga Berjaya..!

 

Our Planet, Our Future

by L.N. Firdaus

 

“Whether humankind has the collective wisdom  to navigate the Anthropocene to sustain a livable biosphere  for generations to come and for the rest of life with  which we share the planet is the most formidable challenge facing our species.”

—Carl Folke

 

Salam Ilmu Pengetahuan,

Pada 26-28 April 2021, KTT Hadiah Nobel pertama: Planet Kita, Masa Depan Kita telah diselenggarakan acara virtual yang berfokus pada tantangan global yang mendesak: perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati; meningkatnya ketidaksetaraan; dan transformasi sosial yang cepat.

The National Academic Press, Washington D.C. telah menerbitkan prosiding yang memuat ringkasan faktual dari apa yang dipresentasi dan diskusikan pada pertemuan puncak tersebut.

Secara garis besar prosiding sebanyak 93 halaman berwarna ini terdiri dari empat bagian: 1) Pendahuluan, 2) Bumi Kita, 3)Terobosan-terobosan, dan 4) Masa depan kita.

Apa saja detail ringkasan substansi pemikiran para Peraih Nobel 2021 itu, dapat disimak dalam Proceeding of 2021 Nobel Prize Summit yang bisa diunduh melalui tautan berikut  ini:

https://drive.google.com/file/d/1XEdoxU6-m40Zr427ae3qC6GKR6nu5UKu/view?usp=sharing

Semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan.

“To enable society to realize the benefits of science, science must reach the public and  policy makers through translation  and communication.”

– Victor Dzau

 

Wassalam,

 

Kebutuhan Riset Global 2022-2031

by L.N. Firdaus

Salam Ilmu Pengetahuan,

Beberapa hari lalu saya mendapat kiriman email berlangganan dari The National Academies Press, Washington DC yang meng-update sejumlah publikasi buku-buku terbaru yang mereka terbitkan.

Satu diantaranya yang saya pikir relevan untuk kolega Universitas Riau yang memiliki academic passion di bidang riset adalah rencana strategis agenda riset global 10 tahun mendatang yang sebetulnya baru dijadwalkan akan dirilis pada tahun 2022.

Laporan tersebut disusun selama “tahun COVID-19,” 2020 oleh Committee to Advise the U.S. Global Change Research Program.

Apa saja agenda riset global 2022-2031, dapat disimak dalam Buku Global Change Research Needs and Opportunities for 2022-2031” yang bisa diunduh melalui tautan di bawah ini:

https://drive.google.com/file/d/1EYyCfNyGQvyw2d7D3c1NP2866YeijTNo/view?usp=sharing 

Semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan.

“The reason why the universe is eternal that It does not live for itself, It  gives life to others as it Transforms..!”

-Lao Tzu

 

Wassalam

 

Riau 4.0

by L.N. Firdaus

“Hancur! Timnas Indonesia Keok Dihajar Thailand 0:4”. Itu antara lain sebuah berita hangat Rubrik Olahraga yang diturunkan redaksi lamanriau.com ( 29 Desember 2021 – 21:45 WIB).

Memang ramai penonton yang geram. Sampai-sampai ada yang memangkung TV tak berdosa itu dengan tukul. Ada pula yang menghumban kotak bengak tu ke jalan sampai berkecai.

Haiyyyyaaa…..Apa Maciam..?

Alhamdulillah; Skor betuah 0:4 itu melahirkan ide untuk judul tulisan hari ini. Riau hari ini hidup dalam kancah peradaban Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0).

Apa kita sudah berkemas dan berdandan untuk ambil bagian dalam pameran di pentas sejagat itu? Atau kita lebih memilih hanya sekedar menyewakan lapak untuk orang lain mengisi produk yang hendak dipamerkan? Semua itu terpulang pada kita dalam memandang halaman rumah Riau hari ini dan ke depan.

Pentas Mondial yang dikemas oleh RI 4.0 itu suasananya lekas lesap (volatile) macam minyak wangi yang sering kita pakai ketika hendak menghadiri sebuah kenduri.

Kadang membingungkan (Ambigue); yang mana satu menu sajian yang hendak dipilih. Kalau kenduri doa selamat di kampung, protokolernya sederhana (simple) karena budaya kampung umumnya relatif seragam (homogen).

Tapi di pesta Mondial, persoalannya tambah rumit (Complex) karena budaya global sangat beragam (heterogen). Ada yang suka Belacan dan ada juga yang belum tahu sama sekali ihwal “Keju Melayu” itu. Hajat kenduri kampung biasanya sudah diketahui oleh orang sekampung jauh-jauh hari. Namun pesta sejagat serba tak pasti (Uncertainty).

Jaman Riau dipimpin Pak Saleh Djasit (2003-2007?), beliau membentangkan “Karpet Merah” di Laman Riau bertuliskan Master Plan Riau 2020. Bagaimana rupa wajah karpet itu sekarang tidak pula bisa ditengok.

Atau jejangan karpet Made in Hongkong (PT Townland) yang dipesan oleh PPIP Universitas Riau dan dibayar tunai oleh PT Caltex Pasific Indonesia seharga sepuluh miliar itu pun dah hilang ditelan masa.

Alhamdulillah, sampai hari ini Halaman bermain Riau masih eksis, meski tak jelas karpet apa yang dibentang untuk anak-cucu-cicit-dan buyut bermain. Rupa Arsitektur Riau 2045 belum bisa dilihat hari ini. Seperti apa wajah Generasi Emas Riau yang akan hadir di Pameran 100 Tahun Indonesia Merdeka kelak?

Jepun yang telah menjajah kita selama 3,5 tahun sudah tak hirau sangat dengan RI 4.0. Mereka sudah membentangkan Karpet Hijau Society 5.0 bagi generasi premiumnya kelak, yaitu masyarakat super cerdas yang siap mengarungi peradaban pasca digital;

  • Masyarakat yang mengkreasi nilai-nilai (values), bukan sekedar membaca papan skor (scoring board) hasil pertandingan bola sepak. Tapi membangun sistem yang dapat mengendalikan pergerakan angka-angka akhir dari skor pertandingan itu.;
  • Masyarakat dimana setiap individu dapat mengasah dan memahat aneka kemampuan (abilities);
  • Masyarakat dimana setiap orang kapan dan dimana saja bisa memperoleh kesempatan atau peluang yang sama untuk memahat skills, Kompetensi, Talenta, dan Kapabilitas yang dituntut oleh Peradaban Abad 21;
  • Masyarakat yang dapat hidup dan merasa aman dari ancaman dengan daya tahan yang tinggi (resilience), dan
  • Masyarakat dimana umat manusia hidup secara harmoni dengan alam.

Riau 4.0 adalah Riau yang menggunakan transformasi digital untuk menyelesaikan persoalan pembangunan secara komprehensif, holistik, dan integral.

Masyarakat Riau 5.0 adalah masyarakat yang memiliki imaginasi dan kreativitas tinggi sehingga dapat mengkreasi nilai-nilai peradaban cemerlang, gemilang dan terbilang.  Mereka adalah kreator peradaban Bumi Lancang Kuning yang akan mewarnai Arsitektur Riau di masa hadapan. Sudah kah kita mempersiapkan itu?

Wahai Peneraju Negeri Bertuah; Riau tidak akan hancur secara fisik hanya karena :

  • Caltex/Chevron berhenti mengisap minyak di Bumi Lancang Kuning
  • RAPP, Indah Kiat, PTPN menyulap tudung payung hutan perawan  riau
  • Perguruan Tinggi di Riau tidak memiliki Gedung dan Laboratorium Riset Berkelas Dunia
  • Sekolah-sekolah dasar dan menengah tidak memiliki sarpras dan halaman berimain yang selesa untuk anak-didik
  • Minyak, Emas, Batubara, dan mineral lainnya semakin susut ditambang
  • Gedung BPSDM Provinsi Riau yang tak cukup ruang kelas untuk membina ASN Berkelas
  • Gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau yang sedari dulu tak pernah berubah

Tapi Tuan-tuan, Encik-encik, dan Puan-puan;

Lambat tapi pasti, Riau  akan punah ranah secara non-fisik oleh fakta mengerikan yang didedahkan oleh Wakapolda Riau (cakaplah.com,  Rabu, 29 Desember 2021 19:15 WIB) bahwa, sepanjang tahun 2021:

“1.596 kasus Narkotika dengan total tersangka 2.338 orang. 675,01441 kilogram sabu, 92.695 butir pil ekstasi, 33,14279 kilogram ganja dan 20 butir pil happy five. 1.464 kasus dengan tersangka sebanyak 2.146 orang. Pil ekstasi sebanyak 53 kasus dengan tersangka 87 orang dan barang bukti 92.695 butir. Ganja sebanyak 75 kasus, tersangka 88 orang dan barang bukti 33.14279 kg. Kasus happy five ada 2 kasus dengan tersangka 5 orang dan barang bukti 20 butir,”

Bagaimana pertanggungjawaban kita terhadap mati sia-sia nya generasi Emas Riau kelak?

Pikir-pikir lah….

in loco parentis

by L.N. Firdaus

Jelang H-3 pergantian tahun 2021,  pikiran saya  tertuju pada narasi Wawasan Almamater  yang dulu (1984) terpampang tegak membusung di sisi kiri Gedung Rektorat Universitas Riau Kampus Jl. Pattimura Gobah.

Saya senang membaca kalimat naratif berwarna putih dengan latar papan berwarna biru laut setiap kali memasuki halaman kampus bertuah itu.

Tak tahu pasti tanggal berapa, hari apa, jam berapa, dan siapa gerangan yang mencabut serta melenyapkan tulisan tentang tata tertib pengasuhan itu. Biarlah kelak dia mempertanggungjawabkan perbuatannya di pengadilan universitas akhirat.

Lama memang Wawasan Ibu Asuh tak pernah diungkit-ungkit, kecuali sekali-dua terdengar melalui lagu ‘Almamater-ku’ kala wisuda.

Bagi yang lupa atau memang belum pernah tahu dan membaca narasi Wawasan Almamater itu, biarlah saya salin ulang ke laman elektronik ini.

Wawasan Almamater adalah konsepsi yang mengandung anggapan-anggapan bahwa:

  1. Perguruan Tinggi harus benar-benar merupakan lembaga ilmiah, sedang kampus harus benar-benar merupakan masyarakat ilmiah.
  2. Perguruan Tinggi sebagai Almamater (Ibu Asuh) merupakan suatu kesatuan yang bulat & mandiri dibawah pimpinan Rektor sebagai pimpinan utama.
  3. Keempat unsur Sivitas Akademika, yakni Pengajar, Karyawan Administrasi, Mahasiswa serta Alumnus harus manunggal dengan Almamater, berbakti kepadanya dan melalui Almamater mengabdi kepada rakyat, bangsa dan negara dengan jalan melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
  4. Keempat unsur sivitas akademika dalam upaya menegakkan Perguruan Tinggi sebagai lembaga ilmiah dan kampus sebagai masyarakat ilmiah melaksanakan Tri Karya, yaitu : Institusionalisasi (pembentukan institusi-institusi), Profesionalisasi (proses memantapan profesi-profesi), dan Transpolitisasi (mempelajari politik, politicking)
  5. Tata krama pergaulan di dalam lingkungan Perguruan Tinggi dan kampus di dasarkan atas azas kekeluargaan serta menjujung Tinggi keselarasan dan keseimbangan sesuai dengan pandangan hidup Pancasila.

(Sumber:  Kep. MENDIKBUD No. 0319/U/1983 tanggal 22 Juli 1983).

Lama saya merenung tengah malam buta sambil memejamkan mata  menjemput tidur sampai terngigau-ngigau; bercakap-cakap sambil bertanya-tanya ke diri sendiri;

  1. Kita ini masih lembaga ilmiah murni, semi ilmiah atau pseudo-ilmiah?
  2. Kita ini masih merupakan entitas akademik yang bulat-padu atau renggang-multisegi dan belum sepenuhnya mandiri?
  3. Kita ini masih manunggal dengan alamater atau “memenggal” almamater?
  4.  Institusionalisasi di kampus kita ini sudah kompatibel dengan tuntutan zaman atau sudah kadaluarsa?
  5.  Profesionalisme yang kita rajut ini masih tetap profesionalisme sejati atau pseudo-profesionalism?
  6.  Transpolitisasi dalam kampus ini masih politic of scholarship atau cenderung campus politicking?
  7.  Tata krama pergaulan dalam kampus kita masih menjulang azas kekeluargaan Demokrasi Pancasila atau nepotism clepto-university?

Baru tersentak dari tidur oleh suara adzan subuh. Lepas itu,  cepat-cepat saya tulis agar igauan dalam tidur saya tadi tidak hilang percuma. Susah minta ulang ngigau yang sama pada episode tidur berikutnya.

Namun minta maaf…, saya sendiri belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif yang muncul dalam  igauan  tadi, terutama tentang:

Sudah sejauh mana diri saya sendiri telah, sedang, dan akan memuliakan misi Orang Tua Asuh (in loco parentis) dalam memberikan pengasuhan akademik (scholarship of teaching and Learning)  melalui pendidikan yang memartabatkan manusia?

Wallahu a’lam bi al-Shawab….

 

Emak Kawan

by L.N. Firdaus

Hari ini (22 Desember) diperingati sebagai Hari Ibu. Hari Emak. Kemarin (21 Desember) Hari Kesetiakawanan Nasional (HKSN). Hari Kawan. Untuk kedua ingatan itu, saya gabung saja jadi satu, Emak Kawan.

Emak Kawan dalam tulisan ini lebih untuk mengenang Emak saya alias Emakku. Tafsiran lain bisa saja Emak dari kawan saya alias Emaknya.

Emakku lahir di Kampung bernama Pelakak, Pulau Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau dan telah berpulang 21 Juli lalu.

Dalam berkawan, Emak Kawan sangat setiakawan. Kawan-kawan Emak Kawan itu memang tak lah ramai. Emakku bukan tipe Emak yang kemaruk bersosialita. Hanya sekeliling pinggang kampung. Pas pula nama kampung Emak Kawan tu Kampung Tengah.

Perkara sehidup-semati, Emak Kawan sudah menunaikan janjinya. Ayah Kawan sudah berpulang tiga puluh empat tahun silam (1987). Emak Kawan berpulang baru berselang lima bulan (2021).

Kesetiaan Emak Kawan tu bukan karena materi. Uang Pensiun PT Timah Singkep yang diwariskan kepada Emak Kawan per 21 Juli 2021 itu hanya Tiga Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah per bulan. Tak pernah pula Emak Kawan tu menggugat cerai ke catatan sipil karena tak tahan hidup melarat.

Emak Kawan juga tak pernah unjuk rasa minta rasionalisasi uang pensiun ke markas besar PT Timah di Pulau Bangka sana, meski sudah hampir dua abad bijih timah dikeruk dari Pulau Singkep. Bahkan Kolong di tepi halaman muka rumah Emak Kawan pernah dua kali dikeruk.

Emak Kawan juga tak pernah hirau  dengan dunia politik yang miskin kesetiakawanan. Ada duit setia. Tak ada duit pergi lah sana. Jangankan persahabatan. Pertemanan pun susah. Yang ada hanya lah kepentingan.

Untung lah Emak Kawan tu tak bisa baca tulis. Jadi tak pernah ambil hirau dengan dunia perpolitikan yang suka cekau sana cekau sini.

Tak mudah juga mengenal pasti mana kawan dan mana lawan dalam dunia politik yang miskin adab.  Terkadang kawan disepak dari depan. Menikam dari belakang sudah tak heran.

Politik dunia kampus begitu juga. Sebelas dua belas. Emak Kawan tak paham soal kampus, meskipun anaknya kuliah, berkerja dan berkarya di kampus. Emak Kawan tu sebetulnya Guru Besar sejati di kampus kehidupan.

Selamat berehat Emak di Kampung Akhirat. Terima kasih Emak telah melahirkan, merawat, membesarkan, dan mendidik kami dengan setulus hati.

Terima kasih Emak telah memberi kesempatan dapat mencium telapak kaki Emak dan mengantarkan Emak ke tempat peristirahatan terakhir. Kasih Emak memang sepanjang jalan, kasih kami hanya sepanjang galah.**

Kecerdasan Hibrida

By L.N. Firdaus

Mendengar kata hibrida, minda saya langsung mengingat Kelapa Hibrida yang booming sekitar setengah abad lalu. Lebih unggul dari Kelapa Kampung.

Beberapa tahun belakangan, dunia otomatif mengembangkan mobil hibrida yang hemat bahan bakar fosil dibandingkan mobil biasa.

Sejak pandemik Covid-19 awal Maret 2020 yang makin melarat, heboh dengan perkuliahan sistim hibrida yang konon lebih unggul dibanding kuliah kovensional.

Tiga tahun sebelum Pandemi Covid-19, Werner Leodolter menulis buku “Digital Transformation Shaping the Subconscious Minds of Organizations: Innovative Organizations and Hybrid Intelligences” yang diterbitkan oleh Springer, Jerman (2017).

Buku ini mencuri perhatian saya karena menyajikan ikhwal transformasi organisasi yang yang inovatif melalui perpaduan kekuatan Minda Bawah Sadar manusia (Subconscious Minds) dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) sehingga melahirkan Kecerdasan Hibrida (Hybrid Intelligence, HI).  

Leodolter menawarkan sebuah kerangka kerja untuk memahami perubahan saat menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang baru. Kecerdasan hibrida dalam kombinasi dengan pikiran bawah sadar dapat membangun fondasi pemahaman akan organisasi berorientasi pada masa depan yang  VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).

Bagaimana cara kerja HI sehingga diyakini dapat mentransformasi sebuah organisasi menjadi lebih lincah dan inovatif?

Organisasi adalah struktur sosial yang sangat kompleks di mana manusia merupakan elemen krusial. Dalam beberapa tahun terakhir, parameter dalam organisasi juga banyak mengalami perubahan oleh teknologi baru yang masif.  Artificial Intelligence (AI) menjadi penggerak utama Revolusi Industri 4.0.  Kepemimpinan organisasi konvensional pun kini mulai bergeser ke Digital Leadership (David et al. 2016; Elkingtong et al. 2017; Brett, 2019; Trost, 2020).

HI sesungguhnya berbasis pada  pemahaman psikologi perilaku dan sains kogniitif yang mengeksplor proses kerja otak yang berasosiasi dengan minda tak sadar (unconscious mind) dan minda bawah sadar (subconcious mind), semisal proses asesmen dan pengambilan keputusan organisasi dan semua atribut yang mempengaruhinya. Hanya sebagian kecil yang ditujukan pada minda sadar (conscious mind) dan kesadaran kita (awareness).

Minda sadar  dari sebuah organisasi diwakili oleh pernyataan misi, visi dan strategi organisasi yang dihasilkan dan tujuan strategis sebagai elemen penting untuk keselarasan, fokus, dan kontrol organisasi yang baik.

Sedangkan minda bawah sadar organisasi diwakili oleh budaya organisasi yang menjadi penentu utama keberhasilan transformasi organisasi tersebut. Budaya organisasi mencakup harapan, pengalaman, filosofi, dan nilai-nilai yang menyatukannya, dan dinyatakan dalam citra diri, interaksi dengan dunia luar, dan harapan masa depan. Hal ini didasarkan pada sikap bersama, keyakinan, adat istiadat, dan aturan tertulis dan tidak tertulis yang telah dikembangkan dari waktu ke waktu dan dianggap sahih.

Dari titik itu, pengkajian difokuskan untuk menemukan metoda dan piranti yang dapat mempengaruhi perilaku, dimamika kelompok, keputusan kepemimpinan dan seterusnya. Eksplorasi juga dilakukan untuk memastikan kondisi khusus apa yang memicu kreativitas dan inovasi dalam sebuah organisasi. Semua anasir tersebut ternyata bekerja dalam ranah minda bawah sadar (pikiran intuitif)  dan interaksinya dengan minda sadar (pikiran rasional).

Dalam analogi yang sederhana, struktur kesadaran dan alam bawah sadar sesungguhnya sudah diterapkan pada organisasi. Sosialisasi misi, visi, strategi, dan budaya organisasi sejatinya merupakan upaya untuk merekam gambaran besar (big picture) masa depan organisasi ke minda bawah sadar pada stakeholders. Jadi, orang-orang dalam organisasi tersebut sesungguhnya dimanipulasi agar secara positif melakukan aksi perubahan secara disiplin sesuai dengan tujuan organisasi.

Namun demikian, analogi otak organisasi tidak hanya sebatas pemahaman atas mekanisme kerja minda bawah sadar individu semata. Infrastuktur dalam sistem dan jejaring organisasi serta rancangan lingkungan kerja yang memungkinkan proses inovasi merupakan elemen esensial dari “minda bawah sadar organisasi”. Elemen-elemen ini tertanam dan saling terkait dalam infrastruktur organisasi dan informasi internal serta sumber pengetahuan.

Interaksi antara  “minda bawah sadar sebuah organisasi”  dan tindakan sadar karyawan di semua tingkatan organisasi tersebut akan sangat menentukan keberhasilan dan berkelanjutan keberadaan organisasi di lingkungan yang semakin fluktuatif.

Oleh sebab itu, kemajuan teknologi Big Data, Media Sosial, AI, Augmented Reality, Internet of Things, dan Internet of Everything hanya akan berhasil digunakan oleh organisasi ketika mereka dengan cermat dan sengaja ditenun ke dalam “minda bawah sadar organisasi” dan ke dalam  infrastruktur organisasi tersebut.

Dengan demikian, transformasi digital  melalui metafor kecerdasan hibrida akan memformat “minda  bawah sadar organisasi” menjadi bagian yang konstitutif dari organisasi masa depan.  Dan itu  merupakan  salah satu tugas manajemen utama, bukan hanya “membiarkan hal itu terjadi” dengan sendirinya dan berjalan santai sembari menebarkan aroma BAU  (Business As Usual).***

Center of Excellence

By L.N. Firdaus

Pusat Keunggulan atau istilah yang lebih keren dan berkelas yang ramai dipidatokan itu dalam bahasa literasi saintifik ditulis: Center of Excellence (CoE). Di dunia akademis, CoE ini paling sering dan suka diusung oleh bakal calon rektor dan/atau bakal calon dekan, ketua jurusan, dan ketua program studi di saat dia menyampaikan visi kepemimpinanya.

Selepas mereka menjadi, pidato yang meletup-meletup dibacakan saat penyampaian visi dalam forum senat pun sirna. Empat atau delapan tahun  di akhir masa jabatannya kelak, nampak pusaka warisan berupa “CoT” (Center of Tunggul).

Nak dihancurkan atau dialihfungsikan tak boleh karena harta pusaka milik negara. Nak diteruskan, kasus hukum sudah tapi belum tuntas. Walhasil, tinggal lah macam tunggul yang payah lapuk ditelan masa alias Gedung-gedung mangkrak menyemak mata memandang.

Itu lah kinerja pejabat (bukan Manajer atau Leader) yang tak mau menulis sendiri naskah pidato yang dibacakan. Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan yang fenomenal dan kharismatik itu bernah berujar, “Jika seseorang pemimpin membaca Teks/Konsep dalam berpidato, berarti di kepala  pemimpin tersebut sudah ada kepala orang lain”. Sebab itu si tukang pidato tadi sering lupa apa yang sudah dia pidatokan dulu.

Yang tak sedap dipandang dan didengar, banyak pula salah melafas teks narasi saat menyampaikan pidato melalui “Mikrofon RoRo”; kejap on, kejap off diiringi lengkingan suara storing yang memekakkan lubang telinga khalayak pendengar.

CoE sesungguhnya adalah sebuah tim, fasilitas berbagi atau entitas yang menyediakan leadership, praktik baik, riset, pelatihan, penunjang teknis untuk area fokus tertentu.  Tergantung konteks nya,  entitas  ini  menjalan fungsi koordinasi untuk memastikan bahwa inisiatif perubahan disampaikan secara konsisten dan baik, melalui proses standar dan staf yang kompeten.

CoE berfungsi memusatkan keahlian dan sumber daya (resources and talents center) yang ada dalam disiplin yang multi atau kemampuan untuk mencapai dan mempertahankan kinerja serta nilai-nilai (values).  Tim jangka panjang ini menggabungkan pembelajaran dan pengawasan di sekitar area tertentu yang menjadi domain kepakarannya, lalu secara bersama-sama mendorong organisasi untuk melakukan transformasi menjadi organisasi yang Berkelas.

Di institusi akademik, CoE sering mewujud dalam bentuk tim dengan fokus yang jelas pada bidang penelitian tertentu (pusat-pusat kajian/riset).  Sekarang ini perguruan tinggi di Indonesia disibukkan lagi dengan kebijakan CoE-MBKM. CoE tersebut dapat menyatukan dan menyelaraskan anggota fakultas dari berbagai disiplin ilmu dan menyediakan fasilitas bersama (shared facilities).

Pusat keunggulan juga dapat ditujukan untuk merevitalisasi inisiatif yang macet. Istilah ini juga dapat merujuk pada jaringan institusi yang berkolaborasi satu sama lain untuk mengejar keunggulan di area tertentu. Dalam situasi tersebut, organisasi-organisasi ini memproleh manfaat dari struktur yang menyatukan berbagai kelompok secara  non-struktural (Hou, 2021).

Dalam sebuah organisasi, CoE juga  dapat berupa sekelompok orang, departemen, atau shared facilities. Dalam portofolio manajemen (Jenner & Kilford, 2021),  Entitas yang menjalankan fungsi koordinasi itu juga dikenal sebagai Competency Center atau Capability Center.  Di perusahaan Teknologi terkemuka, konsep CoE sering dikaitkan dengan alat perangkat lunak baru, teknologi, atau konsep bisnis terkait seperti arsitektur pelayanan (service provider?)  atau pusat-pusat kercerdasan bisnis (business intelligence).

Oleh sebab itu, jika masih ada SOTK Universitas yang hanya membolehkan keberadaan CoE di tingkat Universitas an sich, sementara di tingkat fakultas hanya boleh dalam bentuk Badan (Agency) adalah sebuah bentuk kekurangpahaman filosofi dasar Ontologis sebuah  Center of Excellence.

Revisi lah kalau tak sudi disebut Universitas 1.0.

Transformasi Budaya Korporat

By L.N. Firdaus

Postingan saya sebelumnya tentang Universitas Korporat (15/6) ada menyinggung soal belenggu (old culture) yang kuat menahan ikhtiar  setiap organisasi dalam melakukan perubahan. Bagaimana melonggarkan belenggu karatan itu agar transformasi Universitas Korporat (UK) dapat diinisiasi?

Transformasi menjadi UK termasuk perubahan yang strategis. Perubahan strategis itu meliputi perubahan budaya dan nilai-nilai dasar, perubahan arah/fokus bisnis, dan perubahan cara kerja (Kasali, 2005), bersifat perubahan besar, fundamental, berdampak luas, dan memerlukan koordinasi dan dukungan unit-unit terkait atau bahkan seluruh komponen. Sedangkan perubahan operasional adalah perubahan kecil yang bersifat parsial dan tidak menimbulkan dampak luar biasa.

Mencermati filosofi, dimensi, fungsi, dan tujuan dari UK, maka perubahan dari BPSDM menuju UK  harus menempuh jalur perubahan transformatif. Perubahan transformatif selalu bersifat strategik dan fundamental (Herry Thahjono, 2012), dan menghadapi risiko disintegrasi (Djokosantoso Moeljono, 2005). Disintegrasi itu disebabkan karena adanya perubahan paradigma. Perubahan paradigma merupakan kekuatan esensial dari sebuah perubahan besar (Covey, 1997), baik prosesnya seketika atau pun lambat dan hati-hati.

Aribowo Prijosaksono & Marlan Mardianto (2005) memaknai transformasi sebagai proses pembentukan pola pikir, sikap, dan perilaku untuk membangun karakter manusia baru yang memiliki nilai tambah bagi dirinya, keluarga, organisasi, bangsa dan Negara, bahkan terkhusus bagi Tuhan. Untuk mencegah atau meminimalisir peluang terjadinya disintegrasi dalam sebuah proses transisi menuju perubahan, sebuah proses transformasi harus memperhitungkan dua elemen vital, yaitu kepemimpinan dan budaya organisasi, baik konteks pribadi maupun organisasi (Djokosantoso Moeljono, 2005)

Organisasi atau perusahaan tidak bisa melakukan tranformasi.  Hanya manusia yang bisa melakukannya (Herry Thahjono, 2012).  Mengubah  kultur pribadi maupun kultur organisasi hakikatnya adalah mengubah cara pribadi dan organisasi itu dalam belajar. Jadi, kemampuan belajar merupakan kata kunci keberhasilan transformasi menuju UK. Belajar adalah berfikir. Berfikir membuat kita menjadi kreatif. Kreativitas menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan akan membuat kita menjadi besar (great). Pembelajaran adalah akar dari disiplin dan Inovasi. Tanpa pembelajaran semua itu tidak mungkin.

Nilai budaya adalah inti dari perilaku manusia yang menentukan perilaku organisasi. Karena itu, keunggulan kompetitif yang menjadi tujuan utama UK tidak akan pernah berhasil dirajut tanpa disiplin dalam belajar. Basis dari perubahan budaya adalah pembelajaran, bukan pelatihan (Djokosantoso Moeljono, 2005). Dengan demikian,  untuk menghasilkan sumber daya manusia  yang profesional dengan berintegritas dan talenta tinggi, dibutuhkan budaya organisasi yang kuat.

Transformasi menuju atau menjadi UK tidak bisa keluar dari jalur  transformasi kultural. Transformasi kultural secara sederhana menyangkut tentang bagaimana mengubah cara- cara kita melakukan sesuatu di sekeliling kita (Leaders Quest, 2018). Transformasi kultural harus mulai dari transformasi pribadi para pemimpin (Korsakova et al., 2016). Karena itu diperlukan sensitivitas kultural dari dalam organisasi untuk selalu siap menyempurnakan budayanya sehingga tidak hanya sekedar adaptif, melainkan harus  proaktif.

Perubahan nilai-nilai atau norma-normal ini membutuhkan dukungan semua pihak dan butuh waktu relatif lama. Keberhasilan transformasi menjadi UKditentukan oleh efektivitas reaktor transformatif modal insan melalui siklus pembelajaran sepanjang hayat pada empat elemen kunci UK, yaitu orang, pembelajaran, sistem & pengetahuan, networking dan partnership.

Kinerja reaktor itu harus dikendalikan oleh seorang pemimpin puncak (top leader) yang memahami dan mempraktikkan kepemimpinan transformatif berbasis kultural, yaitu dengan cara menyelaraskan nilai-nilai budaya korporat yang telah ada dengan nilai-nilai budaya baru yang akan dikembangkan (new culture).

Nilai-nilai budaya baru yang akan diselaraskan itu sebaiknya berpaksi pada kearifan lokal masing-masing daerah di seluruh Indonesia. Pembangunan yang mengabaikan kearifan tradisi dan nilai-nilai budaya masyarakat lokal akan bermasalah karena kurang mempertimbangkan dimensi sosial kultural; yang menjadi bingkai laku hidup masyarakat tersebut.

Kearifan lokal setiap daerah akan menjadi modal dasar untuk membangun keunggulan kompetitif  (nilai tambah keunikan) setiap daerah. Nilai strategis  dari kearifan lokal itu  terkait pada fungsinya sebagai perekat simpul jaring pertahanan terhadap gempuran nilai-nilai budaya asing yang kian dahsyat menyerbu dan memutuskan simpul-simpul jati diri setiap organisasi maupun perusahaan.

UK sesungguhnya adalah entitas yang digerakkan oleh nilai-nilai (values-driven organization).  Untuk membentuk organisasi atau perusahaan yang digerakkan oleh nilai-nilai, yang pertama sekali diperlukan adalah komitmen kepemimpinan.Jika pemimpin tidak mau dan tidak mampu memberi teladan dalam mengamalkan  nilai-nilai baru yang diinginkan (new power), maka tidak akan ada anggota organisasi atau perusahaan yang bergerak dan menyelesaikan sebuah agenda perubahan strategis-transformatif. ***

1 2