Center of Excellence

By L.N. Firdaus

Pusat Keunggulan atau istilah yang lebih keren dan berkelas yang ramai dipidatokan itu dalam bahasa literasi saintifik ditulis: Center of Excellence (CoE). Di dunia akademis, CoE ini paling sering dan suka diusung oleh bakal calon rektor dan/atau bakal calon dekan, ketua jurusan, dan ketua program studi di saat dia menyampaikan visi kepemimpinanya.

Selepas mereka menjadi, pidato yang meletup-meletup dibacakan saat penyampaian visi dalam forum senat pun sirna. Empat atau delapan tahun  di akhir masa jabatannya kelak, nampak pusaka warisan berupa “CoT” (Center of Tunggul).

Nak dihancurkan atau dialihfungsikan tak boleh karena harta pusaka milik negara. Nak diteruskan, kasus hukum sudah tapi belum tuntas. Walhasil, tinggal lah macam tunggul yang payah lapuk ditelan masa alias Gedung-gedung mangkrak menyemak mata memandang.

Itu lah kinerja pejabat (bukan Manajer atau Leader) yang tak mau menulis sendiri naskah pidato yang dibacakan. Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan yang fenomenal dan kharismatik itu bernah berujar, “Jika seseorang pemimpin membaca Teks/Konsep dalam berpidato, berarti di kepala  pemimpin tersebut sudah ada kepala orang lain”. Sebab itu si tukang pidato tadi sering lupa apa yang sudah dia pidatokan dulu.

Yang tak sedap dipandang dan didengar, banyak pula salah melafas teks narasi saat menyampaikan pidato melalui “Mikrofon RoRo”; kejap on, kejap off diiringi lengkingan suara storing yang memekakkan lubang telinga khalayak pendengar.

CoE sesungguhnya adalah sebuah tim, fasilitas berbagi atau entitas yang menyediakan leadership, praktik baik, riset, pelatihan, penunjang teknis untuk area fokus tertentu.  Tergantung konteks nya,  entitas  ini  menjalan fungsi koordinasi untuk memastikan bahwa inisiatif perubahan disampaikan secara konsisten dan baik, melalui proses standar dan staf yang kompeten.

CoE berfungsi memusatkan keahlian dan sumber daya (resources and talents center) yang ada dalam disiplin yang multi atau kemampuan untuk mencapai dan mempertahankan kinerja serta nilai-nilai (values).  Tim jangka panjang ini menggabungkan pembelajaran dan pengawasan di sekitar area tertentu yang menjadi domain kepakarannya, lalu secara bersama-sama mendorong organisasi untuk melakukan transformasi menjadi organisasi yang Berkelas.

Di institusi akademik, CoE sering mewujud dalam bentuk tim dengan fokus yang jelas pada bidang penelitian tertentu (pusat-pusat kajian/riset).  Sekarang ini perguruan tinggi di Indonesia disibukkan lagi dengan kebijakan CoE-MBKM. CoE tersebut dapat menyatukan dan menyelaraskan anggota fakultas dari berbagai disiplin ilmu dan menyediakan fasilitas bersama (shared facilities).

Pusat keunggulan juga dapat ditujukan untuk merevitalisasi inisiatif yang macet. Istilah ini juga dapat merujuk pada jaringan institusi yang berkolaborasi satu sama lain untuk mengejar keunggulan di area tertentu. Dalam situasi tersebut, organisasi-organisasi ini memproleh manfaat dari struktur yang menyatukan berbagai kelompok secara  non-struktural (Hou, 2021).

Dalam sebuah organisasi, CoE juga  dapat berupa sekelompok orang, departemen, atau shared facilities. Dalam portofolio manajemen (Jenner & Kilford, 2021),  Entitas yang menjalankan fungsi koordinasi itu juga dikenal sebagai Competency Center atau Capability Center.  Di perusahaan Teknologi terkemuka, konsep CoE sering dikaitkan dengan alat perangkat lunak baru, teknologi, atau konsep bisnis terkait seperti arsitektur pelayanan (service provider?)  atau pusat-pusat kercerdasan bisnis (business intelligence).

Oleh sebab itu, jika masih ada SOTK Universitas yang hanya membolehkan keberadaan CoE di tingkat Universitas an sich, sementara di tingkat fakultas hanya boleh dalam bentuk Badan (Agency) adalah sebuah bentuk kekurangpahaman filosofi dasar Ontologis sebuah  Center of Excellence.

Revisi lah kalau tak sudi disebut Universitas 1.0.